Minggu Jam 5 Sore, Masih ada Bus ke Purwodadi

Bapak pengamen sedang menyanyikan lagu untuk penumpang bus Semarang-Purwodadi, Minggu, (27/10/2019)

Minggu, 27/10/2019, saya harus pergi ke Purwodadi dengan naik bus. Saya yang sudah lama tidak menggunakan angkutan umum itu awalnya ragu apakah masih ada bus di Minggu sore. Berangkat dari Indomaret Mrapen, saya menunggu dari jam 16.15, duduk di pinggir jalan, kata paman itu, saya seperti orang gila.

Beberapa pengendara motor yang lewat melihat ke arah saya. Ada wajah-wajah yang saya kenali tapi tidak melihat saya. Ada yang melihat saya dan membunyikan klaksonnya, tapi tidak menghampiri saya.

Sempat pesimis dan berencana meminta bantuan teman, namun Tuhan berkehendak lain, Ia mendatangkan bus untuk saya. Saya yang awalnya duduk kemudian berdiri, bus mengedipkan lampunya, saya balas dengan lambaian tangan. Bus akhirnya berhenti dan saya naik.

Saya berbincang dengan Mas Kernet, jam 6 sore pun masih ada bus Semarang-Purwodadi yang beroperasi. Saya lupa menanyakan lebih lanjut apakah di jam 6 itu dari Terminal Penggaron atau sampai di Mrapen. Yang jelas, setelah bus yang saya tumpangi, masih ada bus lain di belakang.

Di dalam bus saya menjumpai beberapa profesi yang keberadaannya tergantung pada perusahaan bus. Mereka adalah pedagang asongan, pengamen, pedagang pasar, dan lain-lain. Yang paling menarik perhatian saya sore itu adalah bapak pengamen.

Sambil membawa kentrung, bapak itu berjalan ke tengah bus. Senar kentrung ia petik, mulutnya komat-kamit menyanyikan lagu yang tidak kudengar. Mungkin karena suara bus dan hembusan angin yang lewat jendela kaca atau memang suaranya yang pelan. Saya lebih memilih yang kedua.

Lagu sudah habis, bapak itu menghampiri setiap penumpang sambil menyodorkan plastik. Ia berjalan ke arah belakang dan berakhir di saya, kemudian ia duduk di belakang saya. Ia berbincang dengan bapak yang lain. Aku ikut mendengarkan dan menyumbang kata-kata.

Pembicaraan kami seputar hujan yang belum turun, enaknya punya sawah di dekat sungai, dan pertanian lintas zaman. Saya bertanya mengenai aktivitas bapak pengamen itu selain bermusik di dalam bus. Jawabnya, ia adalah buruh tani dan memiliki sedikit ladang yang ditanami pisang.

Saya ingin tahu mengapa bapak yang kurang lincah bermain musik mau menjadi pengamen. Saya melihat ia tidak bisa mengekspresikan perasaan dari musik yang dilantunkannya, jadinya saya merasa kasihan. Mengapa ia harus melakukan sesuatu yang tidak ia kuasai?

Bagikan

Tinggalkan Balasan